Thursday, August 5, 2010

Audisi Penulis Buku Setan 911



Akhir bulan uang pas-pasan, utang menumpuk, debt collector datang! Pertolongan siapa yang bisa diharapkan? Punya tetangga, tapi cueknya setengah mati. Punya mertua, tapi nolongnya setengah hati. Duh, susah! Untungnya punya kenalan dukun. Tinggal datang sambil bawa kembang tujuh rupa, si dukun trus mencet nomor hotline ...Setan 911, udah deh, “Masalah Anda terselesaikan!”
**************************
****************************8*

Leutikans, di era modern seperti sekarang, setan, jin, tuyul dan sebangsanya ternyata masih menjadi pilihan sebagian orang tuk mengatasi sejumlah masalah, dari yang pengin cari pesugihan, jodoh, hingga cari kesaktian.

Biar gak tambah jauh tersesat, yuk bikin warning buat mereka dan kita sendiri dengan cara mudah:
1. Tulis pengalamanmu tentang:
a. Pesugihan, penglarisan dan sejenisnya.
b. Pelet asmara, pengasihan atau yang serupa dengan itu.
c. Aji kesaktian, bikin kebal tubuh dan selevelnya.
2. Pilih salah satu di antara tiga kategori di atas, kemudian tulis dengan panjang 3—4 hal. A4 spasi 1 ½ Times New Roman 12. Margin default (standar).
3. Harus berupa KISAH NYATA, bisa berupa pengalaman pribadi atau orang-orang terdekat. Boleh pengalaman terlibat langsung atau pengalaman orang terdekat yang terlibat dalam hal2 tersebut. Bagi peserta yang menceritakan pengalaman orang lain, diperbolehkan menggunakan kata ganti orang pertama atau orang ketiga.
4. Tulisan tidak mengandung SARA. Apabila ada penyebutan nama pelaku/tempat/suku mohon untuk disamarkan.
5. Kirim tulisan kamu ke setan911@leutika.com. Jangan lupa, sertakan biodata lengkap (nama asli, nama pena, alamat FB, email, no. hape). Mohon untuk tidak menaruh hasil karya di badan email, jadi file naskah dilampirkan/di-attach. Karya yang masuk ke selain alamat email diatas tidak akan diikutsertakan dalam penjurian.
6. Setiap peserta hanya diperbolehkan mengirim 1 (SATU) karya terbaik.
7. Posting gambar event ini ke wall kamu. Kamu tidak perlu men-tag Leutika tapi boleh ajak2 teman lain :)

Dari event ini, Leutika akan memilih 50 karya terbaik yang akan diterbitkan dalam bentuk buku. Setiap pemenang bakal mendapatkan piagam penghargaan, 1 buku terbit dan hak royalti 10% dari penjualan buku (dibagi jumlah penulis).

Event ini terbuka untuk umum dari tanggal 07 Agustus 2010 hingga 07 September 2010 (jam 24.00 wib). Pengumuman pemenang 20 September 2010 jam 12.00 wib (maklum Lebaran he he)

Setan 911, jangan coba-coba menghubunginya bila tidak mau kena gigitnya!

Wednesday, October 28, 2009

CERPEN

Puisi-puisi di Bus Stand

Aku masih mengaduk-aduk potongan ayam percik di piring. Angin malam yang terasa lembab menerpa. Aina menatapku dengan teduh. Ah, pandangan seperti ini yang selalu kurindukan darinya. Sudah setahun aku tak bertemu dengannya dan selama ini aku selalu berkomunikasi lewat email atau telpon diapartemennya. Kalau dulu aku datang sebagai petualang, sekarang aku datang khusus menyambangi Aina. Hanya untuk Aina.

Aku dan Aina adalah dua orang pembohong. Kami berbohong untuk tak mau mengakui rasa suka dalam hati masing-masing. Biarlah, rasanya lebih nikmat menyimpan perasaan itu. Aku bisa mengajuk hati semaunya. Meresapi rasa sedih, kecewa, rindu dendam dan cinta bergantian mendera. Cinta itu memang aneh dan tak sama situasinya pada tiap orang.

“Kenapa tak makan lagi?” Aina menegurku pelan. Sedari tadi aku memang belum sedikit pun menyentuh makanan didepanku.

Pelan aku mencomot sepotong kecil ayam percik yang sudah kusuir dengan tangan dan memakannya. Lamat-lamat.

“Tak sedap, ya?” Aina bersuara lagi. Pandangannya masih teduh seperti tadi.

“Enak.” jawabku. Ayam percik itu terasa manis dimulutku.

“Seperti bumbu rujak.” komentarku sambil tersenyum.

Aina tertawa pelan. Dulu juga aku selalu berkata seperti itu. Ayam percik adalah ayam stim yang di siram kuah seperti bumbu rujak. Rujak Penang tentu saja.

“Kalau tak sedap kita cari makanan lain, ya? Pasar malam kat jalan Mashuri masih lagi buka.” Aina menyarankan.

Aku menggeleng dan mencomot sesuir ayam percik dan memakannya.

“Sedap ke tak sedap?” penasaran Aina.

“Kalau tak, order chicken black pepper kat Azeem, ya?” Aina menawarkan pilihan lain.

Dulu, aku selalu menemani Aina berbelanja di pasar malam jalan Mashuri, jalan umum yang di tutup untuk pengendara karena jalan sepanjang seratus meter itu dijadikan ajang jual beli layaknya pasar. Ada pedagang ikan segar, sayur mayur, makanan kering, kue jajan pasar sampai pakaian, aksesoris dan peralatan elektronik. Pasar malam yang di buka sekali dalam seminggu setiap kamis malam. Aina pernah bertanya padaku adakah pasar malam di Medan. Ada jawabku tapi jangan berharap menemukan pedagang ikan dan sayur mayur. Kalau mau naik komedi putar atau melihat tong setan bolehlah. Waktu itu Aina tertawa dan menepuk lenganku.

Sepulang dari pasar malam kami selalu singgah di rumah makan Azeem, jalan Tun Dr. Awang di daerah Bayan Lepas tak jauh dari pasar malam. Kami memilih rumah makan itu karena dekat dengan apartemen BJ. Court, tempat tinggal Aina. Cuma butuh lima menit dengan berjalan kaki. Di rumah makan itu kami cuma memesan nasi putih, tomyam campur dan dua gelas minuman. Asamko es, minuman yang rasanya asam, manis dan sedikit asin beraroma jeruk sitrus. Aku dan Aina sama-sama menyukai minuman itu.

“Apa kabar sekarang, sedari tadi belum cerita sikit pun?” tanya Aina tiba-tiba.

“Aku selalu kirim email, kan?” dalihku.

“Iyalah, tapi semua tu tak sama. Lagi suka bila dengar langsung dari orangnya. Cakaplah, cemana kabar Arif sekarang ni?”

Angin malam kembali bertiup. Aku dan Aina memang suka memilih meja di luar, di bawah langit terbuka dan diterangi cahaya lampu hias rumah makan yang berkejaran dan berkelap kelip indah.

“Masih suka tulis pusis?” kejarnya.

Aku tergugu. Menatap penuh wajah manis Aina. Karena puisi juga aku bisa berkenalan dengannya. Dulu aku sering duduk di bus stand tidak jauh dari apartemen BJ. Court. Memandangi dan mengamati orang-orang yang turun dan naik bus. Berkejaran dengan waktu mencari tujuannya sendiri-sendiri. Aku sering menulis puisi di situ, hanyut dan larut dalam duniaku sendiri. Suatu kali aku di tegur oleh seorang perempuan berkulit putih dan berwajah manis. Dia memakai baju kurung dan bertudung likup. Kutaksir usianya sekitar dua puluh lima, dua puluh enam.

“Maaf, encik. Saya nak kembalikan ini. Pastilah encik tercicir benda ni.” Perempuan itu menyodorkan secarik kertas putih.

Aku menerimanya dan segera menyadari kalau kertas itu bertuliskan puisi yang kutulis lengkap dengan jam, tanggal, bulan dan tahunnya kecuali namaku. Buru-buru kuucapkan terimakasih.

“Maaf, encik nama siapa?” kejarnya.

“Namaku Arif.”

“Saya Noor Aina binti Haji Mohammad Razman, panggillah Aina saja.” ujarnya lembut memperkenalkan nama.

Dia lalu bercerita sering melihatku duduk di bangku bus stand dan menulisi kertas putih. Setiap hari Aina naik bus rapid ke tempat kerjanya di daerah George Town dan secara diam-diam pula dia mengakrabi sosokku. Kemarin pasti dia yang duduk ditempatku setelah aku buru-buru meninggalkan bus stand, membeli rokok dan minuman ke mini market Seven Eleven masih diseputaran bus stand.

Perkenalan itu berlanjut menjadi persahabatan. Kami selalu janji bertemu setiap kamis malam. Aku menemani Aina belanja dan pulangnya kami selalu singgah di rumah makan Azeem. Di setiap kali pertemuan, Aina selalu berkata dia takjub padaku. Buat apa jauh-jauh datang ke Penang hanya untuk menulis puisi. Aku kehilangan Melayu ditempatku sendiri, itu jawabku. Aina tertawa dan geleng-geleng kepala. Katanya di penang etnis Melayu itu minoritas. Tapi nuansa Melayu masih kutemukan di sini. Aku seolah menemukan kembali akar budayaku yang hilang. Hh! Tak Melayu hilang di bumi. Memang tak hilang karena aku menemukannya di negeri ini. Negeri yang katanya suka mengklaim kebudayaan negaraku. Tapi aku merasa hal itu cuma kerjaan pihak ke tiga yang coba mengadu domba. Mereka tak mau melihat rumpun Melayu ini menjadi kuat dan bersatu. Lalu orang-orang kebakaran jenggot, protes dan membakar bendera hingga melakukan sweeping terhadap orang-orang Malaysia. Aku tak mau ikut-ikutan. Bodoh saja pikirku.

“Arif, melamunkan apa?” suara Aina mengejutkanku.

Aku meraih gelas dan mereguk sedikit asamko es.

“Aku rindu sekali tempat ini.” gumamku tanpa memandang Aina.

“Rindukan siapa, ni?” suara Aina kudengar bergetar.

“Semuanya. Suasana pasar malam, rumah makan Azeem, makanannya, minumannya dan kau Aina.”

“Betul ke, Arif rindukan Aina?”

Aku mengangguk. Tak ada gunanya berbohong lagi, seolah-olah aku tak menyukai Aina. Sekarang aku ingin dia juga berhenti membohongi hatinya.

“Arif ingat tak puisi bertajuk sendiri yang Arif tulis tu?”

“Puisi yang dulu tertinggal di bangku bus stand?” tanyaku heran.

“Ya, betul yang tu. Aina minta maaf kerana telah menyalin dan menyimpannya kat note book tanpa minta izin pada Arif. Aina suka sangat puisi tu, ingatkan Arif tulis buat Aina.” ujar Aina lembut.

“Tak perlu minta izin. Aku senang kalau ada orang yang suka puisiku.” jawabku coba meyakinkan perempuan bermata teduh bernama Aina itu.

Wajah manis Aina berhias senyum seketika. Tapi apa yang kemudian terucap dari bibir Aina adalah kata-kata yang mengejutkan hati. Sekarang baru aku tau mengapa selama mengenal Aina, dia tak pernah menggunakan handphone. Ternyata Aina menggunakan alat pacu dijantungnya. Dokter menyarankan agar Aina tidak menggunakan komunikasi selular karena bisa mengganggu kerja alat pacu dijantungnya.

“Hidup Aina taka lama lagi, Arif.” gumamnya pelan.

“Siapa yang bisa menentukan hidup mati manusia selain Tuhan?” protesku.

Hening sejenak. Aina tertunduk. Aku memandanginya.

“Bila nanti Arif dah balik Medan, sampai dua atau tiga kali email Arif buat Aina tak berbalas itu bermakna Aina dah berpulang.” datar dan tenang suaranya.

Rasanya ingin aku memeluk Aina saat itu. Aku jadi begitu takut kehilangannya.

“Bacakanlah puisi tu sekali saja buat Aina, please…”

“Aku mencintaimu Aina.” ujarku tak berdaya.

“Aina pun cintakan Arif. Dari dulu lagi, mula pertama kita berkenalan.” Aina menatapku teduh. Teduh sekali.

sendiri

diam-diam

aku pun menyerah

tinggalkan riuh gemuruh

hidup seluruh

aku tak lagi hirau

pada semua fana dunia

biarlah sunyi menjadi sepi

mati juga sendiri

Ah, pantaslah kalau Aina berpikir kalau puisiku yang tertinggal di bangku bus stand itu di tulis khusus untuknya. Karena memang aku bercerita tentang mati dan sendiri. Aku paling benci menangis, tapi membacakan puisi untuk Aina tak urung mataku merebak juga. Setelah itu Aina memasangkan cincin yang dikenakannya ke jari tanganku.

“Cinta Aina selamanya…” bisiknya lembut padaku.

Kali ini aku betul-betul menangis.***

Thursday, September 24, 2009

Sudahkah Kita Menghargai Karya Orang lain?

Teknopreneur

Pertanyaan sudahkah kita menghargai karya intelektual milik pihak lain, jawabannya belum. Meski pun ancaman hukuman dalam undang-undang Hak Cipta sudah diatur dengan jelas: Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagai mana di maksud dalam ayat (1) dipidanakan dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau di denda paling banyak Rp. 500.000.000.-(lima ratus juta rupiah)

Fakta di lapangan, kita dengan sangat mudah menemukan produk bajakan diperjualbelikan pada sentra-sentra ekonomi seperti pusat perbelanjaan, pasar tradisional dan pedagang kaki lima. Buku bajakan, dvd, vcd film dan lagu-lagu, software komputer dan lain-lain. Hal ini kita sadari atau tidak telah merugikan pihak lain selaku pemilik Hak Kekayaan Intelektual yang juga berimbas pada pendapatan negara dalam bentuk pajak. Karena produk bajakan jelas-jelas luput dari kewajiban membayar pajak pada negara. Dampak ikutan dari pembajakan hasil karya intelektual adalah rusaknya imej kita sebagai bangsa, karena meraup keuntungan dari hasil kerja keras pihak lain.

Penegakan Hukum

Aparat penegak hukum dalam hal ini belum bekerja optimal karena masih kita temukan maraknya kasus pembajakan di negara ini. Menjadi sesuatu yang ironi ketika kita melihat pedagang dvd dan vcd dengan suara speaker yang memekakkan telinga menggelar dagangannya di pinggir-pinggir jalan dan pasar tradisional dengan bebasnya sementara aparat penegak hukum berada di sekitar situ. Mustahil mereka tidak mengetahui kalau itu sebuah pelanggaran hukum dan sudah ada undang-undang yang mengaturnya. Sekali lagi kita perlu menanyakan keseriusan pemerintah dalam mengikis habis praktik pembajakan Hak Kekayaan Intelektual di negeri ini. Di masa depan, hanya bangsa kreatif saja yang bisa menguasai perekonomian dunia karena kita tidak bisa lagi mengandalkan sumber daya alam tak terbaharui sebagai sumber pendapatan utama negara.

Musik dan Film Sebagai Bentuk Ekonomi Kreatif

Saya tak bermaksud menafikan bentuk kreativitas lain dengan hanya menyoroti bidang musik dan film dalam tulisan ini. Saya cuma ingin fokus agar tulisan tidak menjadi ‘sesak’ mengulas berbagai bentuk kreativitas tapi tidak menyentuh akar masalah karena keterbatasan ruang tulis. Saya tertarik membicarakan musik dan film karena dalam benak saya, kreativitas di bidang musik dan film merupakan bentuk ekonomi kreatif yang bisa diwujudkan menjadi sebuah industri berskala besar dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar pula. Artis, teknisi, pabrik cakera padat, periklanan, distributor dan banyak lagi tenaga kerja yang terlibat dalam bisnis ini.

Musik

Pada rentang waktu September 2006 sampai dengan September 2007, saya menetap di Malaysia. Apa yang membuat saya bangga menjadi bangsa Indonesia di sana, adalah karena lagu-lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi dan grup band dari Indonesia sangat populer di negara jiran itu. Sebut saja dua stasiun radio swasta papan atas di Malaysia, Era FM dan Hot FM yang bersiaran secara nasional dan di dengar lebih dari 4 sampai 5 juta pendengar (Data dirilis kedua radio tersebut) di seluruh Semenanjung, Sabah dan Sarawak. Charta lagu di setiap minggunya selalu di dominasi oleh penyanyi dan grup band dari Indonesia. Ini adalah sebuah pertanda bahwa musik negeri kita punya kesempatan untuk merambah pasar di Asia bahkan tidak tertutup kemungkinan masuk ke Amerika dan Eropa seandainya penyanyi kita mau merilis album dalam bahasa Inggris.

Film

Bicara soal film, Indonesia secara kuantitas memang sudah bisa dikatakan bangkit dari mati suri. Produksi film dalam negeri mencatatkan 88 judul sepanjang tahun 2008 dan pada tahun 2009 sampai dengan Agustus tercatat sebanyak 54 judul film (Data LSF) coba hitung berapa banyak tenaga kerja yang terserap dan kontribusinya untuk menggerakkan perekonomian nasional. Film sebagai bentuk ekonomi kreatif yang juga bersinggungan dengan teknologi adalah satu kesempatan yang terbuka luas untuk menjadi sebuah industri besar. Masih ingat dua judul film yang menjadi fenomenal, Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi? Luar biasa, ke dua film itu menjadi box office dengan penonton di atas satu juta orang serta mampu mengejutkan pasar hiburan dalam negeri dan beberapa negara jiran. Tidak beranikah kita menangkap fenomena ini sebagai cikal bakal akan tumbuhnya ‘Holywood’ dan ‘Bolywood’ di Indonesia? Pertanyaannya adalah, mampukah kita meningkatkan kreativitas anak bangsa ini menjadi sebuah industri yang menggurita layaknya Holywood dan Bolywood? Jawabannya ada pada kemauan kita sebagai masyarakat dan peran serta pemerintah sebagai pemegang otoritas tertinggi untuk menghargai dan melindungi Hak Kekayaan Intelektual orang-orang kreatif di negeri ini.***

Friday, September 18, 2009





Thursday, September 17, 2009

Teknopreneur


Merubah dunia lewat tulisan, adalah sebuah obsesi yang bisa jadi kenyataan. Kita tidak tahu apa yang menunggu di balik pintu yang belum pernah kita ketuk. Maka ketuklah pintu itu...


Friday, August 7, 2009

Selamat Jalan...


Di bumi yang hangus/ hati selalu bertanya/ hari ini maut milik siapa?
(Cuplikan Puisi 'Bumi Hangus' oleh : W.S. Rendra)

Selamat Jalan 'Burung Merak' Selamat jalan Rendra... pergilah dengan damai menuju ke keabadian...

Thursday, August 6, 2009

Budaya piercing adakah salah satu cara untuk menghilangkan rasa sakit dalam jiwa? Atau ini adalah sebuah unjuk kekuatan atau protes pada tatanan sosial yang sudah mapan? Pantaskah diri menerima kemarahan kita yang kecewa pada keadaan?