Wednesday, December 10, 2008

Lowongan Kerja

Anda ingin berkarir di Amerika atau Canada?
usajobster.com
canadajobsly.com

Beranda

Salam untuk teman-teman penulis TRP, harian analisa Medan. Apa kabar Haya Aliya Zaki, Rina Mahfuzah, Sumiaty KSM, Butet B Manurung, H. Wahyuni, Helmy Fenisia, Januari Sihotang, T. Sandi Situmorang, Irwan Effendi, Embar T.Nugroho. Aku masih ingat sama kalian waktu kita ketemu dirumahnya Haya Aliya Zaki. Makan lontong sate, Buuuk...! He... he... he...Oh, ya. Ada Pak Idris Pasaribu juga disana, redakturnya Rebana analisa minggu.
Apa kabar juga Kak Pengasuh TRP, Bang Kwa Tjen Siung... Wah, makin banyak tulisan yang masuk, ya? analisa emang koran ngetop di Medan! Top amongs the top! Cayo, cayo...!
Apa kabar juga pembaca blog-ku yang anonim, i need your support, Guys! Karena menulis bagiku adalah sesuatu yang menyehatkan jiwa dan raga. Maka menulislah aku tentang apa saja.... Sempatkan membacanya, ya?
Salam Blogger!
Rizlan Effendi

Saturday, December 6, 2008

PoliTrik

Generasi muda hari ini harus melek politik, karena sebagai rakyat kita adalah pemegang kedaulatan dinegeri ini. Untuk itu kita harus berani menentukan pilihan. Ingat, salah memilih dalam satu menit, bangsa ini akan menderita selama lima tahun lagi! Jadi kalau ada yang membagi-bagikan sembako dan uang, ya diambil saja. Tapi didalam tempat pemilihan kalian yang menentukan mana pilihan yang terbaik. Jangan merasa terutang budi karena dikasih sembako dan uang. Kita sepantasnya diberikan kemakmuran bukan sekedar sumbangan yang tak seberapa itu...

Secangkir Kopi

(TIDAK DISPONSORI OLEH STARBUCK COFFE)

Cangkir : Aku heran melihat cewek-cewek di kota kita ini.
Kopi : Kenapa?
Cangkir : Mereka sibuk memutihkan kulit.
Kopi : Apa yang salah?

Cangkir : Kosmetiknya mengandung logam berat dan berbahaya.
Kopi : Putih tak dapat.
Cangkir : Kulit menyalah. Ha... ha... ha...


Blogger: Biarlah yang hitam menjadi hitam, jangan harapkan jadi putih... (Lagu: Rinto Harahap)

Friday, December 5, 2008

Jendela


Sinetron di Televisi Kita


Sinetron sekarang sudah mencapai titik jenuh. Kita malas mau melihatnya bahkan nyaris muntah! Karena ceritanya soal cinta yang menyeh-menyeh dan itu ke itu saja. Seolah para penulis cerita itu kehabisan ide segar. Apalagi plot cerita yang bertele-tele dan tak masuk akal ditambah dengan akting pemainnya yang pas-pasan dan terkesan dipaksakan. Bisanya cuma akting marah-marah dengan mata melotot dan alis naik turun, wuih! Parah banget pokoknya.


Sinetron sudah tidak laku lagi. Itu terbukti ketika pihak stasiun televisi yang menyiarkan sinetron sibuk membuat kuis tentang jalan cerita sinetron dengan iming-iming hadiah. Mereka sudah mati akal untuk mendongkrak rating. Padahal untuk menarik minat penonton, cukup dengan cerita yang bagus dan berkualitas tidak borongan dengan alasan kejar tayang. Siapa yang mengejar? Nggak ada kayaknya, tuh!

Cuplikan Skrip Sinetron Komedi 4

Serial - Rumah No. 7
Episode - Mati-matian Pengen Cakep
Skrip - Ilan Kolanie
Halaman - 4 s/d 5
Scene 4.
In Door. Kamar Dea dan Alia - Malam.
Alia duduk di depan meja rias sedang mengolesi krim pemutih kewajahnya. Dea duduk di ranjang sambil baca majalah.

Alia:
Mbak, kulit putih itu menarik, kan?

Dea:
Buat Mbak sih, putih itu cantik!

Alia:
Tapi Mama bilang kalau semua wanita berlomba-lomba jadi putih, dunia akan terasa hambar dan pucat?

Dea:
Mama sendiri kulitnya putih?

Alia:
Katanya Mama lebih suka kalau kulitnya jadi sawo matang!

Dea terbodoh. Alia terlihat kesal.

Dea:
Terus kalau Papa kita berpaling sama wanita lain, gimana?

Alia:
Broken home dong, keluarga kita?

Cut To.

Tuesday, December 2, 2008

Cuplikan Skrip Sinetron Komedi 3

Serial - Rumah No. 7
Episode - Ketika Kakek Datang
Skrip - Ilan Kolanie
Halaman - 11 s/d 12
Scene 9.
In Door. Ruang Keluarga - Siang (Cont.)
Kakek:
Generasi seperti kalian sekarang maunya serba cepat. Makanan serba cepat, kepingin terkenal, kepingin kaya semua kalau bisa secepat kilat!
Dea:
Tujuan hidup itu untuk senang-senang kan, kek?
Kakek:
Dan serba materi, begitukan? Apa kalian tidak ingat sama mati?
Dea:
Kalau mati dipikirin, kapan kita suksesnya, Kek?
Alia:
Ngomong-ngomong kenapa dulu Kakek mengurung Mama dikandang sapi?
Kakek:
Mama kalian minta dibelikan sepeda kumbang.
Dea:
Terus Kakek mengurung Mama gara-gara minta dibelikan sepeda?
Kakek:
Karena teman-temannya masih jalan kaki ke sekolah. Kakek tidak mau mama kalian sok borjuis disekolahnya.
Kakek tersenyum. Dea dan Alia terbodoh menatapnya.
Dissolve Into.

Cuplikan Skrip Sinetron Komedi 2

Serial - Rumah No. 7
Episode - Hari Kasih Sayang
Skrip - Ilan Kolanie
Halaman - 14 s/d 16
Scene 11.
In Door. Kamar Dea dan Alia - Malam.
Alia sedang tiduran sambil menulis diranjangnya. Dea masuk dari luar.

Dea:
Tulisin dong, puisinya.

Alia menoleh dan tersenyum menatap Dea.

Alia:
Setuju bayarannya segitu?

Dea:
Yang penting nama Joko harus kamu tulis disetiap bait!

Alia:
Beres, Bos!

Alia bangkit dari ranjang dan mengambil kertas dari meja belajarnya. Dea memperhatikannya dengan serius.

Dea:
Puisinya yang romantis.

Alia:
Ditanggung, pasti air mata si Joko berlinang membacanya.

Dea:
Lho, puisi romantis, kok?

Dea terheran-heran. Alia meringis.

Alia:
Maksudnya dia terharu, Mbak. Karena romantisnya.

Alia kembali berbaring diranjangnya dan mulai menulis.

Alia:
Si Joko itu suka laut nggak, Mbak?

Dea:
Dia nggak bisa berenang.

Alia:
Berarti dia nggak suka laut. Kalau gunung? Apa dia suka gunung?

Dea:
Joko takut pada ketinggian.

Alia berhenti menulis dan menatap Dea lekat-lekat.

Alia:
Kok, Mbak Dea mau sih, sama cowok kayak gitu?

Dea:
Mbak suruh kamu bikin puisi, bukan menilai dia. Reseh amat, sih!

Alia terdiam dan berpikir. Dea menatapnya kesal.

Alia:
Bagaimana kalau hutan? Apa dia suka sama hutan?

Dea:
Ini urusannya apa, sih?! Mau kemping?

Alia:
Mbak Dea nggak ngerti, deh. Puisi itu memiliki kerangka, pijakan dan latar belakang.

Dea:
Alah, belagu amat! Khairil itu sambil batuk bisa bikin puisi, nggak pakai nanyain orang macam-macam!
Anwar

Alia:
Ya, sudah. Suruh dia saja yang nulis.

Alia bangkit dan membuang pena ditangannya. Dea mencibir.

Dea:
Khairil Anwar itu sudah meninggal, begok. Katanya kamu penulis puisi, sama rekan sejawatnya aja nggak kenal, sih?

Tiba-tiba Tomy masuk ke kamar.

Tomy:
Mbak berdua dipanggil sama Mama!

Tomy berbalik dan meninggalkan kamar. Dea dan Alia saling pandang.

Cut To.

Cuplikan Skrip Sinetron Komedi 1

Serial - Rumah No. 7
Episode - Main Sinetron
Skrip - Ilan Kolanie
Halaman - 17 s/d 18
Scene 13.
In Door. Ruang Keluarga - Malam.
Dea duduk di sofa sambil bersandar dan memeluk kedua kakinya yang ditekuk. Wajahnya terlihat kesal. Mama muncul menghampirinya.
Mama:
Kalau terus-terusan nggak makan, kamu bisa almarhum, Dea.
Mama duduk di dekat Dea. Dea diam tak bereaksi.
Mama:
Main sinetron itu bukan segalanya, sayang.
Dea cemberut dan melengos dari pandangnan Mama.
Mama:
Apa kamu mau dikenal sebagai bintang sinetron dengan mata melotot dan alis naik turun?
Dea:
Tapi duitnya banyak!
Mama menghela napas kesal.
Mama:
Kalau orientasi kamu cuma duit, jadi penari ular saja di bar!
Dea melirik dengan wajah kesal.
Dea:
Mama ngijinin?
Mama:
Kamu Mama usir dari rumah!
Mama beranjak pergi. Dea memandanginya dengan terbodoh.
Cut To.

Monday, December 1, 2008

Pintu Samping

Kami kat sini naik rimas tengok budak-budak pekeje kilang perempuan dari Indonesia. Bila masa cuti tu, dia orang pigi la pulak release tension kat karaoke. Gelak-gelak macam beruk dibagi pisang, sudahlah pakaian tu tak senonoh! You all kenalah jaga adat resam kita yang serumpun tu. Awak orang Melayu jugak serupa macam kami.

Blogger : Itu khusus pekerja pabrikdi Penang, tapi kalau pembantu rumah tangga tidak bebas keluar rumah.


Kelakar


Seorang pengunjung rumah makan memanggil pelayan dengan wajah merah karena marah.

Bedogol: Pelayan! Kenapa di mangkuk sup saya ada lipasnya?!

Pelayan datang dengan tergopoh-gopoh.

Pelayan: Jangan keras-keras ngomongnya, Mas. Nanti kedengaran sama tamu yang lain, mereka minta juga. Lipas kami tinggal satu itu.

Bedogol: Brrrr...!!!

Artikel Pembangun Semangat

Kita Punya 'Kelas' Tersendiri

Oleh : Rizlan Effendi

Ramli MS. Seorang komposer musik di Malaysia dan kesohor sampai Singapura, ketika diwawancarai oleh Tengku Halida dari tabloid hiburan Panca Indera terbitan Kuala Lumpur berkata: Indonesia tak sama dengan Malaysia. Pemikiran mereka berbeza ketika ketika memilih bintang baru. Mereka pilih orang yang betul-betul bisa menyanyi. Tahap telinga orang sana sudah tinggi, sebab mereka biasa mendengar karya hebat mereka sendiri. Jadi bila memilih bintang baru, standar mereka tinggi juga. Mereka kenal apa itu musik, apa itu penyanyi. Tapi disini tidak. Kita disini, telinga kita masih 'buta' dan mata kita masih 'pekak' untuk melihat musik.

Pernyataan sang komposer itu sangat beralasan. Karena memang industri hiburan di negara kita sangat maju pesat dibandingkan dengan Malaysia. Tak banyak yang berubah dari musik mereka sejak grup band Search, Iklim dan Wings, lebih dari satu dekade lalu meraih sukses di Indonesia. Berbeda dengan kita, sekarang penyanyi dan grup musik asal Indonesia meraih sukses besar dipasaran musik di negara jiran tersebut. Setiap hari stasiun radio swasta disana berlomba-lomba memutarkan lagu-lagu dari Indonesia. Sebut saja dua stasiun radio swasta papan atas di Malaysia, Era FM dan Hot FM yang didengar lebih dari empat sampai lima juta pendengar di seluruh Semenanjung, Sabah dan Satawak.

Charta lagu disetiap minggunya didominasi oleh penyanyi-penyanyi dari Indonesia: Ungu, Dewa, Radja, Peterpan, Nidji, Letto, Rossa, Agnes Monica, Ratu dan masih banyak penyanyi Indonesia yang lain bergantian mendominasi kedudukan charta musik di negara jiran tesebut. "Pecinta Wanita" sound track film Heart nyanyian Irwansyah pernah menduduki charta juara selama 10 minggu berturut-turut di dua stasiun radio papan atas tersebut.

Slank bikin konser di Kuala Lumpur, heboh. Agnes Monica disambut meriah dan grup band baru asal Lampung - Kangen - ikut meraih sukses dalam konsernya baru-baru ini, setelah sebelumnya Kerispatih juga mendapat sambutan yang tak kalah hebatnya. Tak terbatas pada konser dan penjualan album. Lagu-lagu pop Indonesia ternyata banyak di download oleh remaja-remaja Malaysia, sebagai ring tones dan caller tones telepon selular mereka. Bahkan seorang remaja asal Parit Buntar negeri bagian Perak, berkata: Lagu Pecinta Wanita nyanyian Irwansyah adalah lagu yang akan selalu didengarnya sampai mati. Bukan main, pengaruh musik kita disana memang bukan main-main!

Seorang redaktur majalah hiburan URTV, Rosli Manah, menulis dala kolom Cerita Pengarang: Film Heart, Dealova dan lain-lain ditayangkan di Malaysia dan terbaru film 'Berbagi Suami' mula menemui penonton di pawagam. Di televisi, penonton kita dihiburkan dengan gelagat pelakon 'Bawang Merah Bawang Putih' dan berbagai drama lain yang sedang ditayangkan. Sambutannya begitu menggalakkan. Pokoknya dimana saja ada wajah bintang Indonesia.

Inilah fakta yang menggembirakan sekaligus membuat bangga, setelah kita dipermalukan dengan sebutan 'Indon' dan pendatang haram yang kerap membuat kita berkecil hati. Tapi lewat musik, film dan sinetron, kita telah menunjukkan bahwa 'kelas' kita bertada diatas mereka. Penyanyi dan pelakon kita menjadi idola disana. Irwansyah dan Acha Septriasa diserbu penggemar yang terdiri dari para remaja ketika mereka manggung di Planet Hollywood, Nopember tahun lalu di Kuala Lumpur. Mereka berebutan mengambil foto dan minta tanda tangan kedua artis remaja kita: Irwansyah dan Acha. Nampaknya film Heart dan Love Is Cinta lakonan mereka telah menjadikan keduanya idola anak-anak baru gede di Malaysia.

Tak ketinggalan sinetron kirta 'Bawang Merah Bawang Putih' juga telah melmbungkan nama Revalina S. Temat dan Nia Ramadhani. Bahkan vcd 'BMBP' dijual dengan harga 59 ringgit atau sekitar 154 ribu rupiah, laris manis dipasaran. Karena para penonton yang terdiri dari remaja dan ibu-ibu tak ingin berlama-lama menunggu kelanjutan kisah 'BMBP' yang ditayangkan di saluran televisi berbayar ASTRO lewat channel Astro Kirana (Channel khusus yang menayangkan sinetron-sinetron dari Indonesia)

Film layar lebar kita masuk ke bioskop kelas satu di sana seperti di Mid Valley. Ada Apa dengan Cinta, Eiffel i'm In Love, Herat, Mirror, Kuntilanak, Pocong, Jailangkung, Berbagi Suami, Love Is Cinta dan lain-lain semuanya sudah tayang di sana. Kesemua itu telah menunjukkan bahwa musisi, penyanyi, penulis dan pelakon kita memang kreatif. Karena itu kita tak perlu ngotot membuktikan bahwa lagu 'Rasa Sayange' yang diambil oleh Malaysia menjadi lagu iklan partiwisata mereka adalah milik kita yang mereka caplok.

Karena sesungguhnya mereka telah mengakui mereka telah mengakui - meski secara tak langsung - bahwa kita mempunyai standar yang tinggi dalam hal bermusik dan berkesenian, meski bagi masyarakat kita sendiri, musik, film dan sinetron kita belum ada apa-apanya. Ternyata untuk hal yang satu ini, kita memang punya 'kelas tersendiri' dan untuk hal yang satu ini pula, saya bangga jadi orang Indonesia!

Harian analisa, Minggu, 13 Januari 2008