Monday, December 1, 2008

Artikel Pembangun Semangat

Kita Punya 'Kelas' Tersendiri

Oleh : Rizlan Effendi

Ramli MS. Seorang komposer musik di Malaysia dan kesohor sampai Singapura, ketika diwawancarai oleh Tengku Halida dari tabloid hiburan Panca Indera terbitan Kuala Lumpur berkata: Indonesia tak sama dengan Malaysia. Pemikiran mereka berbeza ketika ketika memilih bintang baru. Mereka pilih orang yang betul-betul bisa menyanyi. Tahap telinga orang sana sudah tinggi, sebab mereka biasa mendengar karya hebat mereka sendiri. Jadi bila memilih bintang baru, standar mereka tinggi juga. Mereka kenal apa itu musik, apa itu penyanyi. Tapi disini tidak. Kita disini, telinga kita masih 'buta' dan mata kita masih 'pekak' untuk melihat musik.

Pernyataan sang komposer itu sangat beralasan. Karena memang industri hiburan di negara kita sangat maju pesat dibandingkan dengan Malaysia. Tak banyak yang berubah dari musik mereka sejak grup band Search, Iklim dan Wings, lebih dari satu dekade lalu meraih sukses di Indonesia. Berbeda dengan kita, sekarang penyanyi dan grup musik asal Indonesia meraih sukses besar dipasaran musik di negara jiran tersebut. Setiap hari stasiun radio swasta disana berlomba-lomba memutarkan lagu-lagu dari Indonesia. Sebut saja dua stasiun radio swasta papan atas di Malaysia, Era FM dan Hot FM yang didengar lebih dari empat sampai lima juta pendengar di seluruh Semenanjung, Sabah dan Satawak.

Charta lagu disetiap minggunya didominasi oleh penyanyi-penyanyi dari Indonesia: Ungu, Dewa, Radja, Peterpan, Nidji, Letto, Rossa, Agnes Monica, Ratu dan masih banyak penyanyi Indonesia yang lain bergantian mendominasi kedudukan charta musik di negara jiran tesebut. "Pecinta Wanita" sound track film Heart nyanyian Irwansyah pernah menduduki charta juara selama 10 minggu berturut-turut di dua stasiun radio papan atas tersebut.

Slank bikin konser di Kuala Lumpur, heboh. Agnes Monica disambut meriah dan grup band baru asal Lampung - Kangen - ikut meraih sukses dalam konsernya baru-baru ini, setelah sebelumnya Kerispatih juga mendapat sambutan yang tak kalah hebatnya. Tak terbatas pada konser dan penjualan album. Lagu-lagu pop Indonesia ternyata banyak di download oleh remaja-remaja Malaysia, sebagai ring tones dan caller tones telepon selular mereka. Bahkan seorang remaja asal Parit Buntar negeri bagian Perak, berkata: Lagu Pecinta Wanita nyanyian Irwansyah adalah lagu yang akan selalu didengarnya sampai mati. Bukan main, pengaruh musik kita disana memang bukan main-main!

Seorang redaktur majalah hiburan URTV, Rosli Manah, menulis dala kolom Cerita Pengarang: Film Heart, Dealova dan lain-lain ditayangkan di Malaysia dan terbaru film 'Berbagi Suami' mula menemui penonton di pawagam. Di televisi, penonton kita dihiburkan dengan gelagat pelakon 'Bawang Merah Bawang Putih' dan berbagai drama lain yang sedang ditayangkan. Sambutannya begitu menggalakkan. Pokoknya dimana saja ada wajah bintang Indonesia.

Inilah fakta yang menggembirakan sekaligus membuat bangga, setelah kita dipermalukan dengan sebutan 'Indon' dan pendatang haram yang kerap membuat kita berkecil hati. Tapi lewat musik, film dan sinetron, kita telah menunjukkan bahwa 'kelas' kita bertada diatas mereka. Penyanyi dan pelakon kita menjadi idola disana. Irwansyah dan Acha Septriasa diserbu penggemar yang terdiri dari para remaja ketika mereka manggung di Planet Hollywood, Nopember tahun lalu di Kuala Lumpur. Mereka berebutan mengambil foto dan minta tanda tangan kedua artis remaja kita: Irwansyah dan Acha. Nampaknya film Heart dan Love Is Cinta lakonan mereka telah menjadikan keduanya idola anak-anak baru gede di Malaysia.

Tak ketinggalan sinetron kirta 'Bawang Merah Bawang Putih' juga telah melmbungkan nama Revalina S. Temat dan Nia Ramadhani. Bahkan vcd 'BMBP' dijual dengan harga 59 ringgit atau sekitar 154 ribu rupiah, laris manis dipasaran. Karena para penonton yang terdiri dari remaja dan ibu-ibu tak ingin berlama-lama menunggu kelanjutan kisah 'BMBP' yang ditayangkan di saluran televisi berbayar ASTRO lewat channel Astro Kirana (Channel khusus yang menayangkan sinetron-sinetron dari Indonesia)

Film layar lebar kita masuk ke bioskop kelas satu di sana seperti di Mid Valley. Ada Apa dengan Cinta, Eiffel i'm In Love, Herat, Mirror, Kuntilanak, Pocong, Jailangkung, Berbagi Suami, Love Is Cinta dan lain-lain semuanya sudah tayang di sana. Kesemua itu telah menunjukkan bahwa musisi, penyanyi, penulis dan pelakon kita memang kreatif. Karena itu kita tak perlu ngotot membuktikan bahwa lagu 'Rasa Sayange' yang diambil oleh Malaysia menjadi lagu iklan partiwisata mereka adalah milik kita yang mereka caplok.

Karena sesungguhnya mereka telah mengakui mereka telah mengakui - meski secara tak langsung - bahwa kita mempunyai standar yang tinggi dalam hal bermusik dan berkesenian, meski bagi masyarakat kita sendiri, musik, film dan sinetron kita belum ada apa-apanya. Ternyata untuk hal yang satu ini, kita memang punya 'kelas tersendiri' dan untuk hal yang satu ini pula, saya bangga jadi orang Indonesia!

Harian analisa, Minggu, 13 Januari 2008






0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home