Thursday, August 6, 2009

Dingin di Beranda

Membiarkan waktu adalah kesia-siaan yang patut disesali bahkan untuk dikutuk dan dicaci maki. Hal itu baru kusadari sekarang disaat semuanya sudah sangat terlambat. Siapa yang harus disalahkan, takdir, nasib atau Tuhan? Hh! Entahlah. Aku yang salah, mungkin bodoh! Membiarkan waktu berlalu, bergulir semakin jauh dan tak terkejar.

“Bodoh, kau!” sergah ayahku bukan main marahnya.

“”Carilah penggantinya, nak?” suara emak yang lembut menengahi.

“Tak bisa, mak. Betul-betul aku tak bisa.” jawabku sambil menunduk. Kalau bicara soal hati, siapa yang betul-betul paham selain orang yang punya hati. Begitu pun ayah dan ibuku. Mereka tak mengerti mengapa aku masih mengharapkan Aina. Susah bagiku memindahkan rasa cinta pada perempuan lain. Mungkin banyak lelaki yang mampu mencintai perempuan lebih dari dua atau tiga bahkan empat dalam satu waktu. Bahkan sangat mudah mencari pengganti bila kehilangan salah satunya. Cintaku tidak seperti itu. Cinta bukan hal yang pantas di obral layaknya kencing dibawah pohon.

Aku pecinta sejati. Meski disakiti dan dikhianati oleh Aina yang pergi meninggalkanku dan menikah dengan sahabatku sendiri. Rasa cintaku padanya tak pernah berubah menjadi benci. Tak ada caci maki apalagi sumpah serapah. Aku hanya menangis, menangisi keadaan. Melolongkan rasa kehilangan pada malam-malam sunyi yang semakin terasa panjang.

“Usiamu sudah tiga puluh tahun sekarang. Apa yang kau tunggu lagi?! Kalau tak menikah berarti kau telah menyia-nyiakan hidupmu.” ayah semakin memaksa bahkan terkesan lebih dari hari-hari kemarin.

“Kau laki-laki, nak. Penerus garis keturunan keluarga kita. Menikahlah segera dan berikan kami cucu.” lagi-lagi suara emak yang lembut menengahi kemarahan ayah.

Aku merasa nyaman ketika mendengar emak memanggilku dengan sebutan ‘nak’ dan aku ingin kembali pada masa anak-anak dulu. Lepas bebas tanpa beban, tertawa dan bermain hanya bermain. Tapi sekarang hidup ini terasa amat berat. Banyak masalah yang harus kuhadapi, berat beban yang harus ditanggung.

“Banyak bunga di taman, anakku. Bukan Aina seorang perempuan di dunia ini.” emak berusaha menggugah perasaanku.

“Betul yang emak bilang. Bunga bukannya sekuntum, tapi tak ada yang bisa menyerupai Aina, mak.” aku berkilah.

“Apa yang kau harapkan lagi dari Aina, tu! Langit sudah terang, dia kawin dengan sahabatmu sendiri. Aina mengkhianati janjinya, dia perempuan tak setia!” gusar ayah bagai lahar gunung berapi. Merah membara penuh amarah. Amarah seorang ayah yang harga diri anak lelakinya dihinakan bukan main.

Tapi cintaku pada Aina bukanlah sekarat dua apalagi imitasi. Cintaku itu anugerah Ilahi yang tiada bandingnya. Tak lekang oleh panas, tak lapuk karena hujan. Meski Aina mengkhianati janji, tak ada alasan bagiku membencinya. Biarlah dia bahagia dengan cinta pilihannya, aku ikut berbahagia pula. Bagiku itulah esensi orang yang mencintai.

***

“Apa kabar?” suara perempuan itu masih lembut seperti dulu.

“Baik.” jawabku pelan sambil memandang wajah mungil seorang bocah perempuan yang bersamanya saat itu.

“Siapa namanya?” tanyaku pada bocah perempuan yang kutaksir usianya sekitar empat atau lima tahun itu.

“Amila, om!” jawabnya lugas tanpa malu-malu.

“Namanya Amira.” terang si ibu membetulkan ucapan putrinya yang cadel.

Oh, Tuhan… Amira? Gemuruh menyusup didadaku, tak tahu lagi mau bicara apa.

“Kau sudah menikah, Aditia?” tanya perempuan itu dengan wajah bersalah.

“Belum.”

Perempuan itu memalingkan pandangan. Agaknya dia tak ingin melihat penderitaanku, hari-hari sunyi yang terpahat jelas disetiap garis wajahku. Di saat dia berpaling aku coba mencuri pandang. Melepas kerinduan yang terpendam sekian lama. Ah, Aina… aku mencintaimu seumur hidupku.

“Ayo, kita cari tempat makan.” ajaknya.

Aku menurut saja. Pertemuan tak disengaja di pusat perbelanjaan ini membuat senang hatiku. Setidaknya aku bisa mengetahui hari-harinya setelah menjadi istri sahabatku. Bahagiakah dia?

“Kenapa kau belum menikah?” tanya Aina dengan tatapan matanya yang indah masih seperti dulu.

“Mungkin rusuk sebelah kiriku genap.” jawabku bercanda sambil menyeruput white melon ice.

“Kau marah padaku?”

“Tidak, aku tak pernah bisa marah padamu.” jawabku jujur.

Hening sejenak. Aku dan Aina terdiam sedangkan Amira asyik dengan makanannya.

“Aku memilih Jaka karena dia lebih siap, sedangkan kau peragu dan tak berani mengambil keputusan. Aku perempuan, Aditia. Aku tak bisa menunggu sementara usiaku bertambah terus.” Aina menepikan piring. Sedikit pun dia tak menyentuh makanannya. Aina mengajakku ke tempat ini hanya untuk bicara bukan untuk makan.

Aku menghela napas. Aina membawaku kembali ke masa lalu. Waktu itu aku memang sibuk bekerja, ingin menabung, beli rumah dan kendaraan. Sementara Aina memaksaku menikah dan aku belum siap. Aina lalu meninggalkanku tanpa bisa kucegah. Aku yang salah bukan Aina.

“Rumah tangga itu dibangun dari nol, Aditia. Sekarang aku bahagia, punya anak dan suami yang bertanggung jawab bukan pemimpi seperti kau. Kau tahu, aku membencimu sampai sekarang.” mata Aina berkaca-kaca.

Aku terdiam. Tak berani berlama-lama menatap mata Aina, perempuan yang dulu pernah kumiliki hatinya itu. Aku menggelepar dalam kerinduan, menggapai-gapai, terhempas dan remuk redam sendirian.

“Menikahlah, Aditia. Aku benci melihatmu yang tak terawat dan kusut masai begini.” ujar Aina lirih nyaris terdengar seperti belas kasihan.

Itu kalimat terakhir yang diucapkan Aina sebelum kami berpisah. Aku memandangi kepergian perempuan itu dengan rasa bersalah yang tak termaafkan. Dimatanya aku cuma seorang pecundang, lelaki yang kalah perang! Diam-diam aku sembunyikan mata yang merebak. Melangkah pergi menyusuri hari-hari sunyiku sendiri. Tapi tangisku semakin menjadi bila mengingat nama putrinya itu, Amira. Itu nama yang pernah kurancang untuk anak perempuan kami bila kelak menikah. Aina mengabadikan kenangannya tentang aku pada putrinya itu.

***

Tempias hujan menerpa dan menyapaku yang tengah duduk termangu di beranda. Awan gelap yang berarak itu menyusupkan sepi dalam hati. Ah, semakin menggeletar aku menahan sunyi yang datang diam-diam. Aku benci saat-saat seperti ini, saat dimana rinai hujan semakin mengaburkan pandangan, serupa wajah Aina yang maya tertatih-tatih dalam ingatanku.

Musim penghujan sudah tiba menyapaku yang tengah duduk termangu di beranda. Secangkir teh hangat di tangan tak mampu menepis kerinduan. Entahlah, kenapa rasa sayangku semakin menjadi-jadi disaat seperti ini.

“Masuklah kedalam, terlalu dingin diluar.”

“Ya, sebentar lagi.”

“Apa yang kau tunggu? Dingin hujan yang membuat encokmu kumat?”

Aku terbatuk-batuk kecil. Teh hangat yang sudah menjadi dingin kuhirup sedikit.

“Kalau kau masuk nanti jangan lupa menutupkan pintu. Udara dingin seperti ini membuat kawan-kawan yang lain protes. Mereka menggigil dibalik selimut!”

Terdengar saruk-saruk langkah meninggalkanku.

Aku masih termangu di beranda. Menghirup aroma hujan dan tanah basah. Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, mungkin aku tidak akan menghuni panti jompo ini. Ah, seandainya dulu aku berani menikahi Aina atau tak patah hati setelah ditinggal pergi olehnya, tentu aku sudah menikah, punya anak, tak akan menjadi tua dan jompo sendirian. Sekarang usiaku tujuh puluh tahun, aku merasa sendiri walau pun banyak teman yang menghuni panti jompo ini dan celakanya aku masih merindukan Aina.

***

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home