Monday, March 23, 2009

Centang Or Checklist

Nanti waktu ikut pemilu mencontreng, ya?
Tidak, saya tidak mencontreng tapi mencentang!
Contreng!
Centang!
Pokoknya kamu harus mencontreng!
Saya maunya mencentang
Contreng!
Centang!
Contreeeng....!!!
Ya sudah, kalau begitu...
Kamu akan mencontreng, kan?
(Didalam bilik suara saya tidak mencontreng tapi mencentang)
Siapa yang tahu selain Tuhan?
He... he... he...







Monday, March 16, 2009

PUISI

PENYAIR
Oleh : Rizlan Effendi

penyair itu masih sibuk
merangkai kata-kata
yang dia sendiri tak mengerti
maknanya pasti
aku berseru padanya
pulanglah ke bumi
belajar kembali
mengeja abjad-abjad di papan tulis
aaa.. eee... iii... ooo... uuu...
bahwa kata itu penyampai maksud
bukan bersayap yang menerbangkan
makna ke alam maya



Puisi


SELAMAT JALAN
Oleh: Rizlan Effendi

Kemarin seorang anak menikam diri
dengan belati
basah tubuhnya
basah jiwanya
oleh darah yang kecewa

Medan 0106

Harian analisa, Minggu 29 Maret 2009


PASRAH
Oleh : Rizlan Effendi

Kalau kau ingin pergi
meninggalkan aku
pergilah
rasa sayangku padamu
tak akan pernah berubah jadi benci

Bagiku
kau adalah fana
yang setiap saat boleh pergi
ke mana pun kau suka
dan aku tak berhak
meaksamu untuk abadi

Singkawang 0900

Harian analisa Minggu, 29 Maret 2009



SEBUAH EPILOG
Oleh : Rizlan Effendi

Ah, sudahlah
sedu sedan itu
tak ada gunanya lagi
mungkin mati lebih baik
karena hidup sudah
tak ada gunanya
lagi

Medan 0106

Harian analisa Minggu, 29 Maret 2009




Tuesday, March 10, 2009

Gaya Hidup







Gaya hidup, itu frasa yang belakangan ini kerap muncul di media cetak maupun elektronik. Bagi saya kata itu dimunculkan oleh kaum kapitalis, cuma akal-akalan mereka untuk memengaruhi orientasi hidup orang perorang atau kelompok dalam menjalani hidup keseharian. Tidakkah gaya hidup yang dimaksudkan itu teramat lekat dengan cafe, pusat belanja, pusat kebugaran, spa, mobil, apartemen, peralatan komunikasi? Banyak, terlalu banyak untuk disebutkan semuanya.


Suatu petang di penghujung Juni 2007, saya mencoba masuk ke Starbuck - kedai kopi waralaba dari Amerika - di lantai dasar pusat perbelanjaan Jaya Jusco, Penang, Malaysia. Saya pun memesan secangkir toffe nut frappuccino - blended coffee - bukan kopi hitam atau kopi tubruk seperti yang biasa saya minum. Saya pikir tak ada salahnya sekali-kali minum kopi dengan atmosfir yang berbeda dan tradisi yang berbeda pula. Sesuai dengan motto Starbuck itu sendiri: On With The Tradition.

Diseberang meja saya, ada sepasang remaja berwajah oriental, juga sedang hanging out sambil menikmati minumannya. Mungkin caramel latte atau toffee nut latte, saya tak pasti. Tapi yang saya tahu itu jelas bukan dari tradisi mereka, sama dengan saya. Kami cuma peminjam gaya hidup yang ditawarkan kedai kopi waralaba dari Amerika itu. Sambil minum saya terus mengamati sepasang remaja yang berada di seberang meja. Wajah mereka penuh dengan senyum, berbincang dan sesekali tertawa pelan. Tak tahu, siapa yang menertawakan siapa.

Suatu kali seorang teman membawa saya ke Rasta, cafe yang dilengkapi faslitas wifi dan pengunjung bisa mengakses internet secara gratis - atau mungkin tak benar-benar gratis, siapa tahu mereka membebankannya dalam tagihan makan minum - di jalan Tun Dr. Ismail, Petaling Jaya masih dseputaran Bandar Damansara di mana staisun TV3 yang kesohor itu berlokasi.
Teman tadi tertawa ketika melihat betapa kikuknya saya waktu itu saat mencoba-coba menghisap shisha yang dia pesan. Setahu saya shisha adalah tradisi orang Timur Tengah. Mengihsap pipa tapi tembakaunya diganti dengan semacam puree - tepung basah - yang bahan dasarnya terbuat dari buah-buahan seperti apel, jeruk, stroberi atau kopi bahkan daun mint. Karena itulah rasa shisha bisa bermacam-macam. Terserah kita mau pilih yang mana.

Ketika menghisap pipa yang berhubungan dengan tabung Shisha, air dan campuran ketulan es batu di dalam tabung yang terbuat dari kaca itu seolah menggelegak. Uap air yang berasal dari pembakaran arang dan memanaskan puree dalam balutan aluminum foil, berubah menjadi asap yang terasa ringan dan lembut memenuhi rongga dada. Ketika dihembuskan, aroma stroberi menyeruak bersama kepulan asap yang melayang-layang. Lagi-lagi ini gaya hidup yang saya pinjam dari raja-raja minyak Timur Tengah.

Toffee nut frappuccino d cangkir saya tinggal sedikt, sepasang remaja di seberang meja sudah pergi. Mungkin mereka berburu gaya hidup yang lain, di tempat yang lain. Entah dimana. Saya beranjak meninggalkan Starbuck, di luar gerimis turun dan berubah menjadii hujan. Berteduh di pelataran begini membuat saya jadi teringat pada Marno, seorang teman yang berdagang aksesoris dari kulit di emperan apotik Kimia Farma jalan Malioboro, Yogyakarta. Sudah lama saya tak menyambanginya. Dulu saya sering membantunya berdagang dan dia selalu membelikan segelas kopi tubruk, sebungkus sego kucing dan tiga batang rokok kretek. Lesehan di emperan Malioboro sambil
minum kopi tubruk dan menghisap rokok kretek, itu juga semacam gaya hidup. Tapi mungkinkah gaya hidup seperti ini kita jual ke luar negeri seperti Starbuck dan Shisha yang telah menjadi gaya hidup sebagian penduduk dunia? Jawabannya mungkin tidak. Karena gaya hidup kita terlalu sederhana sehingga tak laku dijual.

Hujan mulai reda. Saya beranjak meninggalkan pelataran Starbuck. Ada kerinduan yang menusuk-nusuk di hati. Ingin rasanya ke Yogyakarta, menyambangi sahabat dan menemukan kembali gaya hidup yang amat bersahaja itu. Karena memang kesederhanaan adalah akar gaya hidup kita yang sebenarnya. Kalau tak punya uang pun, kita tak perlu merampok atau korupsi untuk memenuhi tuntutan gaya hidup. Karena gaya hidup kita memang sederhana. Amat sangat sederhana***

Harian analisa, Minggu, 6 April 2008















Friday, March 6, 2009

Nuansa 5


Nuansa 5

Nuansa 4


Nuansa 4

Nuansa 3


Nuansa 3

Nuansa 2


Nuansa 2

Nuansa 1


Nuansa 1