Gaya Hidup

Gaya hidup, itu frasa yang belakangan ini kerap muncul di media cetak maupun elektronik. Bagi saya kata itu dimunculkan oleh kaum kapitalis, cuma akal-akalan mereka untuk memengaruhi orientasi hidup orang perorang atau kelompok dalam menjalani hidup keseharian. Tidakkah gaya hidup yang dimaksudkan itu teramat lekat dengan cafe, pusat belanja, pusat kebugaran, spa, mobil, apartemen, peralatan komunikasi? Banyak, terlalu banyak untuk disebutkan semuanya.
Suatu petang di penghujung Juni 2007, saya mencoba masuk ke Starbuck - kedai kopi waralaba dari Amerika - di lantai dasar pusat perbelanjaan Jaya Jusco, Penang, Malaysia. Saya pun memesan secangkir toffe nut frappuccino - blended coffee - bukan kopi hitam atau kopi tubruk seperti yang biasa saya minum. Saya pikir tak ada salahnya sekali-kali minum kopi dengan atmosfir yang berbeda dan tradisi yang berbeda pula. Sesuai dengan motto Starbuck itu sendiri: On With The Tradition.
Diseberang meja saya, ada sepasang remaja berwajah oriental, juga sedang hanging out sambil menikmati minumannya. Mungkin caramel latte atau toffee nut latte, saya tak pasti. Tapi yang saya tahu itu jelas bukan dari tradisi mereka, sama dengan saya. Kami cuma peminjam gaya hidup yang ditawarkan kedai kopi waralaba dari Amerika itu. Sambil minum saya terus mengamati sepasang remaja yang berada di seberang meja. Wajah mereka penuh dengan senyum, berbincang dan sesekali tertawa pelan. Tak tahu, siapa yang menertawakan siapa.
Suatu kali seorang teman membawa saya ke Rasta, cafe yang dilengkapi faslitas wifi dan pengunjung bisa mengakses internet secara gratis - atau mungkin tak benar-benar gratis, siapa tahu mereka membebankannya dalam tagihan makan minum - di jalan Tun Dr. Ismail, Petaling Jaya masih dseputaran Bandar Damansara di mana staisun TV3 yang kesohor itu berlokasi.
Teman tadi tertawa ketika melihat betapa kikuknya saya waktu itu saat mencoba-coba menghisap shisha yang dia pesan. Setahu saya shisha adalah tradisi orang Timur Tengah. Mengihsap pipa tapi tembakaunya diganti dengan semacam puree - tepung basah - yang bahan dasarnya terbuat dari buah-buahan seperti apel, jeruk, stroberi atau kopi bahkan daun mint. Karena itulah rasa shisha bisa bermacam-macam. Terserah kita mau pilih yang mana.
Ketika menghisap pipa yang berhubungan dengan tabung Shisha, air dan campuran ketulan es batu di dalam tabung yang terbuat dari kaca itu seolah menggelegak. Uap air yang berasal dari pembakaran arang dan memanaskan puree dalam balutan aluminum foil, berubah menjadi asap yang terasa ringan dan lembut memenuhi rongga dada. Ketika dihembuskan, aroma stroberi menyeruak bersama kepulan asap yang melayang-layang. Lagi-lagi ini gaya hidup yang saya pinjam dari raja-raja minyak Timur Tengah.
Toffee nut frappuccino d cangkir saya tinggal sedikt, sepasang remaja di seberang meja sudah pergi. Mungkin mereka berburu gaya hidup yang lain, di tempat yang lain. Entah dimana. Saya beranjak meninggalkan Starbuck, di luar gerimis turun dan berubah menjadii hujan. Berteduh di pelataran begini membuat saya jadi teringat pada Marno, seorang teman yang berdagang aksesoris dari kulit di emperan apotik Kimia Farma jalan Malioboro, Yogyakarta. Sudah lama saya tak menyambanginya. Dulu saya sering membantunya berdagang dan dia selalu membelikan segelas kopi tubruk, sebungkus sego kucing dan tiga batang rokok kretek. Lesehan di emperan Malioboro sambil
minum kopi tubruk dan menghisap rokok kretek, itu juga semacam gaya hidup. Tapi mungkinkah gaya hidup seperti ini kita jual ke luar negeri seperti Starbuck dan Shisha yang telah menjadi gaya hidup sebagian penduduk dunia? Jawabannya mungkin tidak. Karena gaya hidup kita terlalu sederhana sehingga tak laku dijual.
Hujan mulai reda. Saya beranjak meninggalkan pelataran Starbuck. Ada kerinduan yang menusuk-nusuk di hati. Ingin rasanya ke Yogyakarta, menyambangi sahabat dan menemukan kembali gaya hidup yang amat bersahaja itu. Karena memang kesederhanaan adalah akar gaya hidup kita yang sebenarnya. Kalau tak punya uang pun, kita tak perlu merampok atau korupsi untuk memenuhi tuntutan gaya hidup. Karena gaya hidup kita memang sederhana. Amat sangat sederhana***
Harian analisa, Minggu, 6 April 2008


2 Comments:
Bravo,mantap, saya setuju dgn tulisan anda, kita semua kebanyakan udah kehilangan identitas yg sebenarnya,yg kita pakai itu adalah baju org lain
ㄴ
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home